Monday, April 22, 2013

Hak Konsumen, Tertindas Harga Tak Jelas

-->
Aduh, maaf, Bu. Saya enggak jual bawang. Malu mau jualnya juga. Harganya naik terus. Sehari bisa naik Rp. 5.000. Aneh!” ujar seorang pedagang sayur keliling di wilayah Sadangsari, Kota Bandung pada pertengahan Maret lalu. Selain itu banyak pedagang takut kehabisan modal jika menjual bawang. 
Pada Februari 2013, harga bawang merah masih berkisar Rp 12.000/kg, sementara harga bawang putih Rp 20.000/kg. Tetapi pada pertengahan Maret terus meningkat hingga mencapai Rp 70.000/kg untuk bawang putih dan Rp 50.000 untuk bawang merah.
Naiknya harga mempengaruhi  pemenuhan gizi keluarga ekonomi bawah. “Jatah lauk habis buat beli bumbu. Bingung mau makan apa,” kata seorang ibu. Pedagang warung sembako di Sekaloa, Bandung mengatakan sejak harga bawang naik, penjualan bumbu instan meningkat.  Padahal banyak bumbu instan mengandung  gula, garam, dan sodium glutamate berlebih yang dapat mengganggu kesehatan.
Hingga kini, harga bawang putih maupun merah masih saja tinggi. Kenaikan harga bawang yang mencapai 500 persen sejak Maret hingga April 2013 merupakan kejadian ajaib. 
-->
Ajaib karena pemerintah seolah tak memiliki   pengetahuan tentang kebutuhan masyarakatnya sehingga gagal melakukan antisipasi. Kalaupun pengetahuan ini dimiliki, tetapi tidak dilindungi oleh regulasi yang berpihak pada rakyat sehingga pengetahuan bisa dimainkan untuk kepentingan seseorang atau kelompok.
Di forum-forum online, banyak orang menanggapi sinis pernyataan-pernyataan pemerintah yang tidak mampu menurunkan harga  dengan cepat.
Bangun Kemandirian
Harga pangan yang terus melambung biasa terjadi di Indonesia. Tidak hanya bawang, tapi juga daging, beras, cabai, dan lainnya.
Menurut Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Sudaryatmo dalam Detik.com mengatakan stabilitas harga merupakan hak konsumen yang harus dikawal negara. Indonesia bisa mengadopsi langkah Amerika Serikat yang mampu menjamin stabilitas harga hingga lima tahun.
Impor adalah solusi yang biasa ditawarkan pemerintah. Padahal banyak cara  mandiri agar harga selalu stabil. Menurut Ketua Dewan Bawang Merah Nasional, Sunarto Atmo Taryono, konsumsi bawang merah Indonesia sekitar 1.500 juta ton/tahun. Di musim hujan, petani hanya bisa memenuhi 30% kebutuhan tersebut. Sementara produksi berlebih di musim kemarau.  Itu sebabnya pemerintah hanya perlu menyediakan alat pendingin untuk menyimpan stok bawang merah. 
Untuk kemandirian jangka panjang, pemerintah harus mendidik masyarakat agar bisa menanam kebutuhan pangan di rumah. Di beberapa negara, sistem kitchen garden  atau  penanaman tumbuhan pangan di rumah mulai digalakkan kembali.  Yuk berkebun di rumah agar tak selalu tertindas harga tak jelas. (Ynt)


 

Peluang Bisnis dari Popok Bekas


Di Indonesia, setiap hari ada sekitar 5 juta  popok bekas dibuang dan tak termanfaatkan!
Karena praktis, makin hari penggunaan popok sekali pakai semakin meningkat. Setelah dipakai, popok tinggal dibuang, sehingga menghemat tenaga, detergen, dan air untuk mencuci popok. 
Namun, sampah  popok  pun makin menumpuk. Tahun 2012, Indonesia memiliki sekitar 17,2  juta bayi di bawah 2 tahun dan rata-rata penggunaan popok sekali pakai adalah 0,3 buah popok/hari/ bayi, sehingga akan dihasilkan 5 juta sampah popok per hari atau sekitar 150 juta sampah popok per bulan. Fantastik! 
Gunung sampah  popok itu tentu saja butuh solusi agar tidak mencemari lingkungan.     Banyak hal yang bisa kita buat dari sampah popok ini.
Di Kanada, ada perusahaan  yang khusus mendaur ulang popok dari penitipan anak dan panti jompo. Setiap tahun mereka menampung popok   dengan volumenya setara 96 kolam renang ukuran olimpiade yang menghasilkan karbon dioksida (CO2) atau setara dengan CO2 dari 7.500 mobil.  Popok dikeringkan dan disterilkan sebelum diubah menjadi bubur kertas dan plastik. Bubur kertas dan plastik dari popok kemudian dibentuk menjadi ubin, atap, pipa plastik, genteng, sol sepatu, dan wallpaper.
Di Amerika Serikat, limbah popok  diubah jadi etanol. Di Jepang, popok bekas  dibubukkan, dikeringkan, disterilkan, dan dibentuk pelet  kering yang tidak berbau. Tiap kilogram pelet mengandung 5.000 kkal sehingga bisa digunakan untuk biomassa dan sistem listrik. (Ynt)
-



Kode Etik untuk Becak dan Andong

Setiap 24 April, kita merayakan Hari Angkutan Nasional. Masalah angkutan nasional begitu banyak dan pelik. Bahkan sejak Indonesia merdeka hingga kjni, masalah angkutan umum masih  sama saja.   
Kali ini kita tidak hendak membicarakan masalah-masalah tersebut, tetapi membuka arsip lama tentang hal-hal yang menarik dari  angkutan umumkhas Indonesia.  
Tahun 1966, becak merupakan angkutan umum praktis yang digunakan mengangkut barang dan orang pada rute-rute pendek. Jumlahnya yang banyak membuat pengemudinya  membangun organisasi Kesatuan Aksi Pengemudi Becak Indonesia (KAPBI) yang salah satu tugasnya menentukan tarif  untuk penumpang dan jumlah setoran per hari pada pemilk becak, serta aturan agar tidak main hakim sendiri jika terjadi kecelakaan di jalan raya yang melibatkan pengemudi becak.
Selain pengemudi becak, kusir andong di Yogyakarta juga memiliki kode etik yang sampai saat ini terus dijalankan. Kode etik disampaikan walikota Yogyakarta saat  itu Letkol Sudjono A.J. pada akhir Oktober 1966. Isinya antara lain, kusir harus menggunakan kain, surjan, dan blangkon mataraman. Selain itu, kusir harus memasang kantung penampung kotoran kuda. Jika kotoran jatuh di jalan, kusir harus membersihkannya dengan serok dan sapu. Andong harus menggunakan lampu jika berjalan di malam hari. (Ynt)




 

Asiknya Baca Buku Gratis

 Ruang baca anak Badan Perpustakaan dan Kearsipan Daerah Jawa Barat di Jalan Kawaluyaan  Indah II, Bandung dipenuhi  pengunjung, Sabtu (2/3).
Seluruh meja dan kursi sudah di tempati.  Pengunjung yang baru datang  membaca di sekitar koridor antar rak buku.  Ada juga yang membaca sambil tiduran. Jika bosan membaca, mereka bisa bermain  seluncuran di pojok ruangan. Ruang didesain agar anak-anak nyaman membaca. Koleksi bukunya pun beragam, antara  lain  buku   agama,  budaya, cerita anak tradisional dan modern, pengetahuan alam, dan keterampilan. 
Perpustakaan daerah terdapat di seluruh kota/kabupaten dan provinsi. Setiap orang boleh berkunjung, membaca, dan meminjam buku. Biasanya perpustakaan daerah memiliki koleksi buku lama dan baru beraneka bidang. Untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat, ada juga perpustakaan daerah yang  menyediakan perpustakaan keliling.
Selain perpustakaan milik pemerintah, banyak juga sekolah, perguruan tinggi, tempat ibadah, lembaga swasta atau perorangan yang membuka perpustakaan untuk umum. Kalau malas pergi ke luar rumah, Anda dapat membaca buku yang disediakan perpustakaan online hanya dengan mengakses internet. Baca buku tidak susah dan mahal, kan? (Ynt)


Rahasia Usia 10 - 12 Tahun

 
Di usia 12 tahun R.A. Kartini sudah memiliki ide-ide besar. Di usia 10 tahun, Dewi Sartika sudah menjadi guru.  Ada rahasia apa di balik usia 10—12 tahun tersebut?
Menurut psikolog perkembangan Jean Piaget, anak usia 10—12 memiliki kepekaan yang lebih besar terhadap diri, kelompok, dan  lingkungannya. Berikut ini adalah beberapa kemampuan yang dimiliki anak-anak berusia 10—12 tahun:

¨ Melihat hubungan berbagai aspek dalam suatu hal.
¨ Melihat kebenaran berdasarkan keadilan.
¨ Mempunyai citarasa keadilan dan peduli kepada orang lain.
¨ Memahami perbedaan di antara individu.
¨ Tertarik memahami hal yang baik dan buruk. 
¨ Mampu dan mau melihat sudut pandang orang lain. 
¨ Memahami adanya aturan berdasarkan perbedaan jenis kelamin.  
¨ Sangat tertarik pada aktivitas sosial, berminat pada kelompok, dan mencari kekariban dalam kelompok.  

   Anak berkembang dengan baik jika mendapatkan rangsangan yang tepat. Salah satu rangsangannya adalah bacaan.  Untuk anak usia 10—12 tahun, Burhan Nurgiyantoro dalam penelitiannya tentang perkembangan anak dan pemilihan bacaan, merekomendasikan   bacaan tentang penemuan jati diri, kesuksesan seseorang atau kelompok menghadapi kesulitan, kisah petualangan, serta kesuksesan dalam menciptakan penemuan.  Yuk...berburu buku. (Ynt)