Saturday, March 30, 2013

Tips Menghemat Listrik

 
¨ Teratur membersihkan kondensor  yang terletak di belakang lemari es.
¨ Atur suhu lemari es sesuai kebutuhan. Semakin dingin, semakin banyak konsumsi listriknya.
¨ Cabut kabel  peralatan elektronik ketika tidak digunakan.
¨ Gunakan pelampung pemutus arus  otomatis untuk memutus arus listrik ke pompa air bila air sudah penuh.
¨ Memilih rice cooker dengan kapasitas yang sesuai dengan kebutuhan.
¨ Menggunakan lampu hemat energy dan hanya menghidupkan lampu ketika perlu. 
¨ Cabut charger karena menyedot listrik cukup besar meskipun tidak terhubung dengan alat elektronik. (pln.co.id & kompas.com)




Tarif Listrik Naik



 

Senin (1/3/2013) tarif tenaga listrik naik! Pemerintah dan Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) menaikkan tarif sebesar 15 % untuk tahun ini. Kenaikan dilakukan per tiga bulan, sehingga rata-rata kenaikannya 4,3 % per bulan.

Kebijakan ini dilakukan untuk menghemat subsidi listrik yang telah mencapai Rp 90 triliun. Kenaikan  hanya diberlakukan pada pelanggan listrik di atas 900 VA. Saat ini ada 49,1 juta pelanggan Perusahaan Listrik Negara (PLN). Golongan pengguna listrik 450 VA  dan 900 VA sebanyak 38,8 juta pelanggan. (sumber: okezone.com)

Tidak Semua Hipertensi Perlu Obat

Tidak semua hipertensi perlu obat karena manusia punya sistem penyetabil tekanan darah. Hipertensi sementara yang tak perlu obat adalah sebagai berikut: 

¨ Hipertensi yang  timbul setelah beraktivitas berat, letih, kesal,  dan gundah.  Beristirahatlah jika lelah dan tenangkan diri jika kondisi jiwa sedang tak baik.   
¨ Hipertensi yang  terjadi setelah minum obat golongan corticosteroid (untuk asma, eksim, lupus), pil KB, hormon estrogen, pil hormone gondok, obat pelonggar hidung, serta kopi dan alcohol takaran tinggi. Tensi akan normal ketika obat dan bahan tersebut dihentikan. (sumber: Buku Sehat Itu Murah, Dr. Hendrawan Nadesul)

Sejarah Hipertensi

Hipertensi dan pengobatannya menggunakan hisapan lintah sudah dikenal di  masa Kaisar Kuning di Cina (2696-2598 SM).    

Namun di Barat, pengetahuan hipertensi dimulai abad 16 setelah  William Harvey menggambarkan sirkulasi darah pada buku De Motu Cordis yang membuka pemahaman tentang sistem kardiovaskular.   Sementara deskripsi hipertensi sebagai penyakit muncul dari Thomas Young tahun 1808 dan Richard Bright tahun 1836.  
Baru tahun 1896, manset sphygmomanomet ditemukan oleh Scipione Riva-Rocci sehingga tekanan darah dapat diukur secara klinis. Alat itu ditambahi stetoskop untuk mendengar denyut nadi oleh  Nikolai Korotkoff, lima tahun setelah diproduksinya obat hipertensi pertama di dunia tahun 1900.        (sumber:en.wikipedia.org)


Demam Mahoni 1967

Karena mahalnya harga obat, di bulan Juli 1967, biji mahoni mendadak populer menggantikan obat-obat yang diresepkan dokter. Saat itu orang percaya bahwa biji mahoni dapat mengobati kencing manis, pusing, malaria, dan hipertensi. 

Meski kebenaran khasiat dan dosis biji mahoni belum diberikan dinas-dinas kesehatan, “demam” menggunakan biji mahoni sebagai obat telanjur terjadi.  Di Makassar banyak orang memanjati pohon-pohon mahoni di pinggir jalan untuk mendapatkan bijinya. Di jalan-jalan besar Yogyakarta, biji mahoni dari Gunung Kidul dijual anak-anak seharga Rp 5 per 3 bungkus.  (sumber: Kompas)

Friday, March 29, 2013

Setiap tahun 9 juta orang di dunia meninggal akibat hipertensi atau tekanan darah tinggi dan kini 25% orang dewasa di dunia menderita hipertensi. Itu sebabnya Badan Kesehatan Dunia (WHO) menjadikan hipertensi sebagai tema  peringatan Hari Kesehatan Dunia, 7 April 2013.  

Hipertensi adalah gangguan sistem peredaran darah yang menyebabkan tekanan darah berada di atas 140/90mmHg terus-menerus. Hipertensi bisa menyebabkan serangan jantung, gagal ginjal, kebutaan, dan stroke. 
Penyebabnya hipertensi yang dapat dikendalikan antara lain terjadinya “karat lemak” akibat kolesterol pada dinding pembuluh darah, obesitas, konsumsi garam tinggi, stress, kurang bergerak,  kebiasaan merokok, kebiasaan mengonsumsi kafein dan alkohol berlebihan. Sementara penyebab yang tak dapat dikendalikan antara lain usia yang semakin tua dan  keturunan. 

Pencegahan hipertensi antara lain merawat pembuluh darah agar tak berkarat lemak dan tetap lentur. Caranya, makan makanan bergizi lengkap dan bervariasi, biasakan banyak bergerak, hindari cemaran radikal bebas dari polusi udara juga asap rokok. Cegah dari sekarang sebelum “pembunuh senyap” menyelusup dalam pembuluh darah Anda!