Karena mahalnya harga obat, di bulan Juli 1967, biji mahoni mendadak populer menggantikan obat-obat yang diresepkan dokter. Saat itu orang percaya bahwa biji mahoni dapat mengobati kencing manis, pusing, malaria, dan hipertensi.
Meski kebenaran khasiat dan dosis biji mahoni belum diberikan dinas-dinas kesehatan, “demam” menggunakan biji mahoni sebagai obat telanjur terjadi. Di Makassar banyak orang memanjati pohon-pohon mahoni di pinggir jalan untuk mendapatkan bijinya. Di jalan-jalan besar Yogyakarta, biji mahoni dari Gunung Kidul dijual anak-anak seharga Rp 5 per 3 bungkus. (sumber: Kompas)
No comments:
Post a Comment